Sunday, 27 September 2009

Manfaat Tanaman Puring yang terkenal dari Kuburan.....


Puring, dari Kuburan ke Industri Mode

Jakarta - Puring, croton, tanaman emas, tanaman raja, atau apa pun namanya, kini bukan lagi berfungsi sebagai penghias halaman rumah saja. Tumbuhan yang juga kerap ditanam di kuburan itu kini menjelma menjadi bagian dari mode. Dengan cara apa?

Era Sukamto menjawabnya. Perancang yang dulu sempat bekerja sama dengan Ichwan Thoha membentuk label Urcan Crew ini membuat batik puring. Batik ini mengambil kecantikan motif tanaman puring serta pewarnaan dari daun puring yang memiliki warna beragam. “Pewarnaan dengan bahan-bahan alam, tapi tidak hanya dari croton. Ada pula yang menggunakan pewarna kimia,” kata Era usai peragaan koleksi batik puring dengan label Gaia di Balai Sidang Jakarta, Jumat (20/3). Peragaan koleksi itu digelar usai memperkenalkan batik puring pada pengunjung Pameran Dekranas pada 17-22 Maret.
Sudah satu tahun belakangan ini Era menggeluti puring. Ia bukan hanya sebagai perancang, tetapi juga salah seorang pengurus Croton Indonesia yang bertujuan melestarikan tanaman asli Indonesia itu dengan mendirikan Croton Village di Bumi Nanggrang, Sukabumi, Jawa Barat.
“Lima motif puring sudah dipatenkan. Motif-motif itu berdasarkan bentuk daunnya,” kata Era.
Menurut Era, membuat batik puring bukan pekerjaan mudah. Setahun sejak ia pertama kali mencoba membuatnya, hasilnya belum sesempurna yang ia harapkan. “Batik puring ini unik banget. Gradasi dan blocking color-nya lebih sulit. Sudah satu tahun saya mengembangkannya, tapi hasilnya belum ada yang sama persis. Masih dalam proses pengembangan untuk mendapatkan batik puring yang sempurna,” ujar perempuan lulusan sekolah desain LaSalle Singapura ini. Era memang serius mengembangkan batik puring. Ia bahkan mengambil seorang penyanyi, Alena, untuk menjadi duta batik puring.
Tanaman yang berasal dari Maluku dan Jawa ini memiliki keunikan pada bentuk daun dan warnanya yang beragam. Bentuk daunnya ada yang panjang dan ada pula yang lebar. Tepi daunnya keriting. Yang membuatnya tambah unik adalah warnanya yang variatif. Ada puring yang berwarna merah dengan bintik-binting putih kekuning-kuningan, hijau dengan motif kuning atau merah. Menurut Ari Wijayani Purwanto, dosen Fakultas Pertanian Universitas Veteran Yogyakarta yang meneliti tanaman puring, bentuk dan warna itulah yang menarik perhatian banyak perajin batik.
Sebagai perancang, itu pula yang menarik perhatian Era. “Croton itu identik dengan pluralisme, warna-warni,” kata Era singkat. Proses pembuatannya sebenarnya sama saja dengan batik pada umumnya, tapi sebagian lagi dilukis, di atas bahan serat alami yang kebanyakan berupa sutra. Motif itu dibuat serumpun di atas atasa longgar, gaun panjang, dan selendang. Ia menempatkan motif puring itu di beberapa sudut saja, di bahu atau pinggang.

Pemanasan Global
Penggunaan tekstil dari bahan-bahan sintetis dan pewarnaan yang menggunakan bahan kimia membuat industri mode sebagai salah satu penyumbang pemanasan global. Batik, misalnya. Meskipun masih banyak perajin yang menggunakan pewarna alam, seperti taum atau nila untuk menghasilkan warna biru, kulit akar mengkudu untuk warna merah, serta kunyit untuk menghasilkan warna cokelat dan kuning, pewarna kimia dianggap lebih praktis. Selain itu, pewarna kimia menghasilkan warna yang lebih cerah.
Namun, Yusran Munaf, Yayasan Batik Indonesia, mengatakan pewarnaan dengan bahan-bahan alami akan mendapat peluang lebih besar. “Pewarna alam itu agak redup, tidak secermerlang pewarna kimia. Namun kecenderungan orang sekarang lebih senang pada warna yang demikian, tidak menyilaukan mata,” kata Yusran di sela-sela perkenalan puring di hadapan pengunjung pameran itu. Hanya saja, belum ada cara yang pas untuk memanfaatkan daun puring ini untuk menjadi pewarna alami.
Sebenarnya fungsi puring terhadap lingkungan bukan hanya manfaatnya pada industri mode. Sebagai tumbuhan biasa, puring memiliki kemampuan menyerap polutan, terutama timbal. Di bidang kesehatan, daun puring dipercaya dapat menyembuykan sakit perut. Tanaman itu menjadi penting dalam tradisi Jawa. Konon, untuk membuat keluarga hidup bahagia, tanaman ini menjadi bagian tradisi pernikahan masyarakat Jawa. “Ada pula kepercayaan masyarakat bahwa jika ingin hidup bahagia, tanamlah puring. Di Yogja, puring lagi tren, menggantikan anturium, harganya bahkan ada yang sama (dengan anturium),” kata Ari.
Kini, puring bukan lagi menjadi tanaman hias di halaman dan kuburan, atau bagian dari tradisi saja, industri mode pun sudah meliriknya.

1 comment:

  1. Sehubungan Budaya Batik telah resmi di kukuhkan oleh UNESCO jadi patutlah sebagai bangsa INDONESIA utk bangga !!!

    ReplyDelete